Judul Film : Alangkah Lucunya Negeri Ini
Produksi : Citra Sinema
Rilis : 2010
Durasi : 105 Menit
Produser : Zairin Zain
Penulis scenario : Musfar Yasin
Sutradara : Deddy Mizwar
Pemain : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, Teuku Edwin.
Kali ini gue pengen mencoba meresensi film yang sebenarnya udah lumayan
lama juga sih, filmnya Alangkah Lucunya Negeri Ini. Film ini dirilis tahun 2010
dan pasti udah enggak asing banget yakan di telinga kalian para pecinta film
Indonesia. Agak telat memang gue mengulas film ini, maklumlah baru kemarin gue
nonton nih film sama temen temen kuliah gara gara tugas kuliah (kudet berat).
Udah lama gue penasaran sama ini film, tapi males buat nonton wkw. Dan baru
kesampaian nonton filmnya kemarin berkat ngopy dari laptop temen gue si *piiip*
hehehe. Anyway kali ini gue bakal mengulas sedikit tentang film yang bergenre
komedi ini. Kalau ada kesalahan dalam meresensi tolong dimaafkan yah, namanya
juga belajar dari kesalahan masa lalu *eh
Film Alangkah Lucunya Negeri Ini mengangkat cerita tentang kehidupan
anak jalan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan menonjolkan tema
pendidikan, film ini bermaksud untuk menyentil masyarakat Indonesia agar sadar
betapa pentingnya pendidikan untuk kemajuan suatu bangsa.
Menurut gue dalam film ini bisa membuka mata kita bahwa masih banyak
sekali anak-anak muda yang tak bisa mengakses pendidikan karena terhambat oleh
biaya, belum lagi dalam film ini digambarkan pula tekanan sebagai seorang
sarjana, gue jadi sadar walaupun kita punya title dibelakang nama kita dari
berbagai disiplin ilmu, enggak menjamin kita bakal gampang diterima kerja.
Tapi engga cuma sisi edukasi dari film ini yang gue dapat, ada sisi
sosial, agama, dan lainnya. Disini gue bakal mengupasnya lebih lanjut.
Sisi Edukatif dalam film “Alangkah
Lucunya negeri Ini”
1) Pendidikan itu tidak penting.
Begitu menurut haji
Sarbinni ayah calon mertua dari Muluk, dan asumsi dua ratus tiga juta penduduk
Indonesia yang tidak berpendidikan saat ini. Menurutnya lebih baik setelah
lulus Madrasah atau pesantren lebih baik langsung kerja di kios-kios atau
berjualan di pasar, karena menurutnya yang penting seseorang dapat bekerja,
berpenghasilan dan dapat naik haji.
2) Banyaknya pengangguran.
Semua tokoh utama dalam
film ini adalah pengangguran. Karena memang tak ada pekerjaan yang layak bagi
mereka. Muluk yang lulusan manajemen tak diterima diberbagai perusahaan,
akhirnya mengajar dan mengatur para pencopet.
3) Korupsi dihasilkan dari proses
pendidikan yang salah
Dalam suatu adegan dalam
film ini dijelaskan, bahwa jika kalian tidak sekolah dan tidak berpendidikan,
maka kalian hanya bisa jadi pencopet. Namun, lihat koruptor mereka semua orang
berpendidikan tinggi, punya uang banyak, dan berkecukupan tapi tetap tidak
puas. Artinya, jelas lihat koruptor dinegeri ini, semakin mereka berpendidikan
tinggi semakin banyak uang yang mereka korupsi.
4) Masih mahalnya biaya sekolah
Dalam film ini salah
satua alasan mereka menjadi pencopet ialah masih mahalnya biaya sekolah.
Meskipun ada pencopet yang berbaju SMP, namun itu hanya sebagai kamuflase
ketika mencopet di bus-bus umum, maupun sekolah. Inilah masalah klasik mulai
dahulu hingga sekarang dalam pendidikan Indonesia.
5) Minimnya Tenaga pendidik yang
handal
Terbukti dengan
berakhirnya film ini, Majid yang seorang lulusan sarjana pendidikan kembali
frustasi dan bermain gaple lagi bersama teman-temannya. Tenaga pendidik di
Indonesia lebih terpusat dikota-kota besar, namun tak ada yang mau untuk
mengajar di daerah-daerah pedalaman ataupun pesisir atau di daerah pegunungan.
Sisi Sosial dalam film “Alangkah
Lucunya Negeri Ini”
Diawal film terlihat
bahwa masih kentalnya sikap mempercayai pada benda-benda mistik/ jimat yang di
jual di pasar-pasar kaki lima pada kehidupan bermasyarakat. Ini menunjukan
masyarakat Indonesia yang tak intelek, dan tak berpikir logis sebab masih
berpikir dan mempercayai pada takhayul dan makhluk-makhluk halus. Lalu, masih
maraknya kehidupan sosial yang tak seimbang antara yang miskin tetap miskin dan
yang kaya akan terus kaya. Terbukti dengan kesenjangan sosial, antara para
pencopet dan para koruptor.
Sisi Agama dalam film “Alangkah
Lucunya negeri Ini”
Film ini memberi banyak
hikmah dan renungan-renungan bahwa segala sesuatu harus didasari oleh agama.
Namun , bagaimana caranya belajar ilmu agama Islam? disini anak-anak diajari
sholat dan mengaji. Bahwasanya sejelek-jeleknya orang, dalam film ini para
pencopet pun, tetap saja harus saja diisi oleh Leha ilmu agama. Karena tetap
hanya agamalah yang bisa merubah akhlak manusia menjadi lebih baik.
Tapi ada yang menarik dari cuplikan akhir
dari film ini, ada tulisan yang diambil dari bunyi pasal 34 UUD 1945 yang
berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Ini sebagai
kalimat penutup yang sangat menyentil bagi para masyarakat dan juga pemerintah.
Ya menurut gue film ini bisa bikin sedikit kita melek lah sama keadaan bangsa
ini, jangan terlalu egois mikirin diri sendiri, tapi kita juga perlu berempati
kepada orang-orang yang tak seberuntung kita. Syukuri apa yang udah kalian dapat
gengs, kamu lebih beruntung daripada mereka.

0 komentar:
Posting Komentar