Rabu, 21 Desember 2016

Hasil gambar untuk alangkah lucunya negri ini

Judul Film : Alangkah Lucunya Negeri Ini
Produksi : Citra Sinema
Rilis : 2010
Durasi : 105 Menit
Produser : Zairin Zain
Penulis scenario : Musfar Yasin
Sutradara : Deddy Mizwar
Pemain : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, Teuku Edwin.

Kali ini gue pengen mencoba meresensi film yang sebenarnya udah lumayan lama juga sih, filmnya Alangkah Lucunya Negeri Ini. Film ini dirilis tahun 2010 dan pasti udah enggak asing banget yakan di telinga kalian para pecinta film Indonesia. Agak telat memang gue mengulas film ini, maklumlah baru kemarin gue nonton nih film sama temen temen kuliah gara gara tugas kuliah (kudet berat). Udah lama gue penasaran sama ini film, tapi males buat nonton wkw. Dan baru kesampaian nonton filmnya kemarin berkat ngopy dari laptop temen gue si *piiip* hehehe. Anyway kali ini gue bakal mengulas sedikit tentang film yang bergenre komedi ini. Kalau ada kesalahan dalam meresensi tolong dimaafkan yah, namanya juga belajar dari kesalahan masa lalu *eh
Film Alangkah Lucunya Negeri Ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak jalan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan menonjolkan tema pendidikan, film ini bermaksud untuk menyentil masyarakat Indonesia agar sadar betapa pentingnya pendidikan untuk kemajuan suatu bangsa.
Menurut gue dalam film ini bisa membuka mata kita bahwa masih banyak sekali anak-anak muda yang tak bisa mengakses pendidikan karena terhambat oleh biaya, belum lagi dalam film ini digambarkan pula tekanan sebagai seorang sarjana, gue jadi sadar walaupun kita punya title dibelakang nama kita dari berbagai disiplin ilmu, enggak menjamin kita bakal gampang diterima kerja.
Tapi engga cuma sisi edukasi dari film ini yang gue dapat, ada sisi sosial, agama, dan lainnya. Disini gue bakal mengupasnya lebih lanjut.
Sisi Edukatif dalam film “Alangkah Lucunya negeri Ini”
1) Pendidikan itu tidak penting.
Begitu menurut haji Sarbinni ayah calon mertua dari Muluk, dan asumsi dua ratus tiga juta penduduk Indonesia yang tidak berpendidikan saat ini. Menurutnya lebih baik setelah lulus Madrasah atau pesantren lebih baik langsung kerja di kios-kios atau berjualan di pasar, karena menurutnya yang penting seseorang dapat bekerja, berpenghasilan dan dapat naik haji.
2) Banyaknya pengangguran.
Semua tokoh utama dalam film ini adalah pengangguran. Karena memang tak ada pekerjaan yang layak bagi mereka. Muluk yang lulusan manajemen tak diterima diberbagai perusahaan, akhirnya mengajar dan mengatur para pencopet.
3) Korupsi dihasilkan dari proses pendidikan yang salah
Dalam suatu adegan dalam film ini dijelaskan, bahwa jika kalian tidak sekolah dan tidak berpendidikan, maka kalian hanya bisa jadi pencopet. Namun, lihat koruptor mereka semua orang berpendidikan tinggi, punya uang banyak, dan berkecukupan tapi tetap tidak puas. Artinya, jelas lihat koruptor dinegeri ini, semakin mereka berpendidikan tinggi semakin banyak uang yang mereka korupsi.
4) Masih mahalnya biaya sekolah
Dalam film ini salah satua alasan mereka menjadi pencopet ialah masih mahalnya biaya sekolah. Meskipun ada pencopet yang berbaju SMP, namun itu hanya sebagai kamuflase ketika mencopet di bus-bus umum, maupun sekolah. Inilah masalah klasik mulai dahulu hingga sekarang dalam pendidikan Indonesia.
5) Minimnya Tenaga pendidik yang handal
Terbukti dengan berakhirnya film ini, Majid yang seorang lulusan sarjana pendidikan kembali frustasi dan bermain gaple lagi bersama teman-temannya. Tenaga pendidik di Indonesia lebih terpusat dikota-kota besar, namun tak ada yang mau untuk mengajar di daerah-daerah pedalaman ataupun pesisir atau di daerah pegunungan.
Sisi Sosial dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”
Diawal film terlihat bahwa masih kentalnya sikap mempercayai pada benda-benda mistik/ jimat yang di jual di pasar-pasar kaki lima pada kehidupan bermasyarakat. Ini menunjukan masyarakat Indonesia yang tak intelek, dan tak berpikir logis sebab masih berpikir dan mempercayai pada takhayul dan makhluk-makhluk halus. Lalu, masih maraknya kehidupan sosial yang tak seimbang antara yang miskin tetap miskin dan yang kaya akan terus kaya. Terbukti dengan kesenjangan sosial, antara para pencopet dan para koruptor.
Sisi Agama dalam film “Alangkah Lucunya negeri Ini”
Film ini memberi banyak hikmah dan renungan-renungan bahwa segala sesuatu harus didasari oleh agama. Namun , bagaimana caranya belajar ilmu agama Islam? disini anak-anak diajari sholat dan mengaji. Bahwasanya sejelek-jeleknya orang, dalam film ini para pencopet pun, tetap saja harus saja diisi oleh Leha ilmu agama. Karena tetap hanya agamalah yang bisa merubah akhlak manusia menjadi lebih baik.
Tapi ada yang menarik dari cuplikan akhir dari film ini, ada tulisan yang diambil dari bunyi pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Ini sebagai kalimat penutup yang sangat menyentil bagi para masyarakat dan juga pemerintah. Ya menurut gue film ini bisa bikin sedikit kita melek lah sama keadaan bangsa ini, jangan terlalu egois mikirin diri sendiri, tapi kita juga perlu berempati kepada orang-orang yang tak seberuntung kita. Syukuri apa yang udah kalian dapat gengs, kamu lebih beruntung daripada mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Hello peeps! Blogger Template by Ipietoon Blogger Template